Aku tinggal di sebuah desa tepencil. Belum ada akses listrik. Jalan masih tanah liat merah. Ketika mobil pengangkut gelondongan kayu lewat, maka saat itulah muka dipenuhi bedak dari debu. Terlebih sedang kemarau seperti sekarang ini.
Duh jangan ditanya sulitnya mendapatkan air bersih di tempat kami. Sumur-sumur sudah kering. Sungai andalan pun sudah terputus dan meninggalkan genangan-genangan kecil air keruh. Amat tak layak untuk dikonsumsi.
Biaya kebutuhan pokok juga meningkat drastis. Terutama lauk seperti ikan air tawar seketika menjadi barang mewah. Pasalnya tambak-tambak pun banyak yang sudah kering kerontang. Parahnya ada saja oknum seraka di tengah krisis ini. Tega meracuni ikan di sungai utama dan danau besar untuk dipanen sesaat, tetapi pada mati semua ikannya kemudian. Bikin keadaan sulit semakin sulit.
Aku tak mau menyerah dalam kondisi sulit. Itu bukan alasan untuk menyerah. Maka suatu hari aku berjalan menyusuri sungai kecil yang sudah tinggal lumpur. Berharap menemukan ikan untuk makan malam anak dan istri. Kasihan aku melihat mereka cuma makan nasi sama air garam saja.
Sekitar sudah satu jam mencari, tiba-tiba kaki kananku terperosok ke dalam lubang. Aku berdebam jatuh. Sakit sekali gan rasanya. Aku bangkit sambil meringis sakit. Botol air minumku pecah karena insiden itu.
Saat menarik kaki aku kaget ternyata lubang itu berisi air. Aku pun berspekulasi di dalam lubang itu ada makhluk yang bisa dimakan. Maka dengan nekat aku meraba-raba ke dalam lubang. Ternyata lubangnya masih dalam, tak dapat aku jangkau dasarnya. Dan tak menemukan apa-apa.

sumber ilustrasi: tribunnews.com
Maka aku coba peruntungan lain. Memasang pancing kecil. Hasilnya amat mengagetkan. Tali pancing yang aku pegang seketika kencang. Ada makhluk yang menarik dengan kuat dari dalam lubang.

sumber ilustrasi: tribunnews.com
Aku pun refleks langsung mengangkatnya. Waw! Ternyata makhluk yang memakan umpan pancingku adalah lele kampung ukuran lumayan.

sumber ilustrasi: tribunnews.com
Aku pun sontak melakukan goyang dumang tanda hati senang. Tak menyangka bakal menemukan sarang ikan lele di lubang seperti itu. Kabar baiknya lagi ternyata isi lubang itu gak cuma satu ikan. Pancinganku yang kedua juga begitu cepat disambar ikan lele dengan ukuran jumbo. Ketiga, keempat, kelima dan seterusnya.
Sampai tarikan yang ke 99, tak terasa hari mulai gelap. Karung yang aku bawa penuh sesak. Aku pulang ke rumah dengan perasaan senang melayang bak di atas kahyangan. Sebelum pulang, tak lupa aku tutup lubang itu agar tidak diketahui orang lain.
Tetanggaku yang seorang saudagar kaya tahu kalau aku dapat lele kampung yang lagi langka. Maka dia nekat membeli lele tangkapanku dengan harga mahal. "Duh udah lama keluarga kami gak makan lele kampung segar gini. Sekilo aku beli 200 ribu. Ok ya?" Tanya si saudagar. Jelas saja aku mengangguk setuju.
Benar-benar hoki. Berawal dari kaki terperosok dan sakit, aku menemukan sarang makhluk mahal. Bagaimana tidak mahal, total uang yang aku dapat dari jualan kawanan lele ke saudagar mencapai 50 juta lebih. Hebatnya lubang sarang lele itu terus mengeluarkan lele, seperti tak ada habisnya sekalipun sudah lebih dari sebulan aku panen.
Kisah di atas menggambarkan tentang pepatah habis gelap terbitlah terang. Dia terus berusaha dalam kondisi susah, jatuh terperosok dan sakit. Tapi kemudian menemukan solusi yang tak pernah terpikir sebelumnya. So, jangan berhenti berharap dan berusaha kawan.
*Tamat*
Sumber Referensi:
Diadaptasi dari kejadian yang pernah penulis baca
Sumber Referensi Lainnya: Tribunnews.com, dalamislam.com, dream.co.id
Duh jangan ditanya sulitnya mendapatkan air bersih di tempat kami. Sumur-sumur sudah kering. Sungai andalan pun sudah terputus dan meninggalkan genangan-genangan kecil air keruh. Amat tak layak untuk dikonsumsi.
Biaya kebutuhan pokok juga meningkat drastis. Terutama lauk seperti ikan air tawar seketika menjadi barang mewah. Pasalnya tambak-tambak pun banyak yang sudah kering kerontang. Parahnya ada saja oknum seraka di tengah krisis ini. Tega meracuni ikan di sungai utama dan danau besar untuk dipanen sesaat, tetapi pada mati semua ikannya kemudian. Bikin keadaan sulit semakin sulit.
Aku tak mau menyerah dalam kondisi sulit. Itu bukan alasan untuk menyerah. Maka suatu hari aku berjalan menyusuri sungai kecil yang sudah tinggal lumpur. Berharap menemukan ikan untuk makan malam anak dan istri. Kasihan aku melihat mereka cuma makan nasi sama air garam saja.
Sekitar sudah satu jam mencari, tiba-tiba kaki kananku terperosok ke dalam lubang. Aku berdebam jatuh. Sakit sekali gan rasanya. Aku bangkit sambil meringis sakit. Botol air minumku pecah karena insiden itu.
Saat menarik kaki aku kaget ternyata lubang itu berisi air. Aku pun berspekulasi di dalam lubang itu ada makhluk yang bisa dimakan. Maka dengan nekat aku meraba-raba ke dalam lubang. Ternyata lubangnya masih dalam, tak dapat aku jangkau dasarnya. Dan tak menemukan apa-apa.
sumber ilustrasi: tribunnews.com
Maka aku coba peruntungan lain. Memasang pancing kecil. Hasilnya amat mengagetkan. Tali pancing yang aku pegang seketika kencang. Ada makhluk yang menarik dengan kuat dari dalam lubang.
sumber ilustrasi: tribunnews.com
Aku pun refleks langsung mengangkatnya. Waw! Ternyata makhluk yang memakan umpan pancingku adalah lele kampung ukuran lumayan.
sumber ilustrasi: tribunnews.com
Aku pun sontak melakukan goyang dumang tanda hati senang. Tak menyangka bakal menemukan sarang ikan lele di lubang seperti itu. Kabar baiknya lagi ternyata isi lubang itu gak cuma satu ikan. Pancinganku yang kedua juga begitu cepat disambar ikan lele dengan ukuran jumbo. Ketiga, keempat, kelima dan seterusnya.
Sampai tarikan yang ke 99, tak terasa hari mulai gelap. Karung yang aku bawa penuh sesak. Aku pulang ke rumah dengan perasaan senang melayang bak di atas kahyangan. Sebelum pulang, tak lupa aku tutup lubang itu agar tidak diketahui orang lain.
Tetanggaku yang seorang saudagar kaya tahu kalau aku dapat lele kampung yang lagi langka. Maka dia nekat membeli lele tangkapanku dengan harga mahal. "Duh udah lama keluarga kami gak makan lele kampung segar gini. Sekilo aku beli 200 ribu. Ok ya?" Tanya si saudagar. Jelas saja aku mengangguk setuju.
Benar-benar hoki. Berawal dari kaki terperosok dan sakit, aku menemukan sarang makhluk mahal. Bagaimana tidak mahal, total uang yang aku dapat dari jualan kawanan lele ke saudagar mencapai 50 juta lebih. Hebatnya lubang sarang lele itu terus mengeluarkan lele, seperti tak ada habisnya sekalipun sudah lebih dari sebulan aku panen.
Kisah di atas menggambarkan tentang pepatah habis gelap terbitlah terang. Dia terus berusaha dalam kondisi susah, jatuh terperosok dan sakit. Tapi kemudian menemukan solusi yang tak pernah terpikir sebelumnya. So, jangan berhenti berharap dan berusaha kawan.
*Tamat*
Sumber Referensi:
Diadaptasi dari kejadian yang pernah penulis baca
Sumber Referensi Lainnya: Tribunnews.com, dalamislam.com, dream.co.id