Dia lah Bapurao Tajne. Seorang pria yang berasal dari Kalambeshwar, Distrik Washim, Nagpur, India, yang memiliki semangat baja. Dia seorang Dalit, kasta terendah di India. 
Bagi seorang dalit memiliki sumur pribadi menjadi suatu hal yang mustahil. Selain membutuhkan biaya yang tak sedikit, hal itu akan menjadi bahan olokan dari golongan kaya. Pungguk merindukan bulan, tak kan pernah bisa terwujud pikirnya.
Seperti halnya keluarga miskin lain yang hanya bekerja sebagai buruh, demikian juga halnya Tajne. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, sang isteri, Sangita kerap meminta air kepada keluarga kaya raya. 
Air tak seberapa didapat, tetapi hinaan yang bertubi-tubi selalu mengikuti. Bahkan seringkali penolakan dan penghinaan yang didapat tanpa membawa air setetes pun. Siapa yang tahan setiap kali harus jadi bahan hinaan orang. Begitu pun dengan sepasang suami isteri ini. 
Karena terlalu seringnya ditolak dan dicaci maki oleh orang kaya raya pemilik sumur tersebut, Sangne merasa sakit hati. Dia merasa dilecehkan karena berasal dari keluarga miskin dan kasta terendah, Dalit. 
Setiap kali Tajne mendengar keluhan istrinya, ia pun merasa terhina. dia tak terima diperlakukan seperti itu. Hati kecilnya menjerit, ingin membalas sakit hatinya namun apa daya dia hanya seoarng yang papa. 
Akhirnya dia memutuskan tidak akan pernah mengemis air lagi kepada siapa pun.
Tajne pun bangkit, mencari cara mengubah nasib menjadi lebih baik. Dia segera pergi ke kota terdekat, Malegaon untuk membeli peralatan menggali sumur.
Menggali sumur bukanlah pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan persiapan dana dan tenaga yang berlipat. Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh 4-5 orang.
Apalagi sebelumnya, Tajne tidak berpengalaman menggali sumur. Namun hal itu tak menyurutkan niat dan tekadnya untuk menggali sumur. Tekad Tajne sudah mengeras dan mungkin lebih keras dari bebatuan dan cadas yang akan dia gali.
Perlahan Tajne mulai menggali seorang diri tanpa ada satupun orang sekitar yang membantu. Bahkan, semua orang menganggapnya sudah gila. Karena di wilayah itu lahannya berbatu. 
Jadi sangat tidak mungkin akan berhasil menemukan air. Usaha Tajne akan sia-sia, begitu anggapan orang-orang. Di wilayah itu sudah ada tiga sumur galian dan satu sumur bor. 
Hasilnya nihil, tidak sedikit pun air memancar. Sehingga wajar saja warga sekitar menganggap Tajne sudah gila.
Penduduk desa terang-terangan mengejeknya. Tapi Tajne terus menggali dan menggali tak kenal lelah. Dia menggali selama 4 jam di pagi hari sebelum berangkat kerja dan 2 jam setelah pulang kerja. 
Hal tersebut rutin dia lakukan selama 40 hari, tanpa terputus. Sulit dijelaskan apa yang dirasakan Tajne saat itu. Pikirannya berkecamuk antara putus asa, tetapi jika teringat perlakuan orang kaya terhadapnya dan istrinya, tekad dan semangat itu semakin membara.
Alat yang dia pakai sangat sederhana. Hanya cangkul. Selain itu dia tidak memiliki pengetahuan tentang hidrologi sedikit pun. Hanya bermodal semangat dan tenaga saja. Dia ikuti kata hati dan instingnya. Gali dan gali, tanpa henti.
Tuhan tidak tidur. DIA sangat menghargai usaha keras hambaNya, apalagi niatnya tulus untuk membantu penduduk untuk mendapatkan air tanpa takut cemoohan dan hinaan.
Dan akhirnya tak sia-sia, kerja kerasnya selama 40 hari membuahkan hasil yang mengejutkan. Air pun akhirnya memancar dari sumur galian Tajne. Upaya gigih yang diiringi doa tulus Tajne dikabulkan Sang Pencipta.
Kini, warga yang sebelumnya mencibir Tajne berbondong ke sumur itu. Mereka mengambil air hasil keringat Tajne yang mereka olok-olok tanpa ampun.
Sumur yang digali Tajne itu memiliki kedalaman 4,5 meter. Tajne ingin menggali 1,5 meter lagi agar lebih dalam sehingga sumur dengan lebar 2 meter itu bisa menampung air lebih banyak.
Jaishree, salah seorang tetangganya, mengapresiasi upaya Tajne yang pantang menyerah itu. Ia sangat berterima kasih pada Tajne. 
Kini, para Dalit itu tak lagi bergantung pada air sumur milik keluarga kaya. Sebelumnya, mereka harus berjalan satu kilometer ke daerah lain dan terkadang dilecehkan.
Sumber: www.dream.co.id