Sahabat SP - Pernikahan adalah soal kejujuran, soal kasih sayang dan saling menjaga. Saling keterbukaan akan menjadi sebuah kekuatan agar hubungan tahan lama, lantaran sekali saja berbohong akan diikuti dengan kebohongan selanjutnya. Seperti kisah nyata berikut ini.
Seorang pria bercerita. Aku dan istri saling kenal di kantor. Ia adalah seorang gadis kota yang memiliki pemikiran yang terbuka, dan aku begitu tertarik dengan wanita sepertinya. Cantik, menarik dan penuh dengan rasa humor yang tinggi, dan tidak perlu waktu lama sampai aku benar-benar terpikat olehnya.
Saat rekan kantorku mengetahui kalau aku sedang berusaha melakukan pendekatan dengannya, mereka memberitahukan kepadaku tentang latar belakang mantan pacarnya. Tapi aku tidak tidak peduli dengan masa lalunya. Pikirku, yang sudah lalu biarlah berlalu, tidak perlu diungkit atau bahkan dibesar-besarkan lagi.
Tanpa menunggu waktu yang lama, akhirnya aku pun mengungkapkan perasaan padanya, memintanya untuk menjadi pacarku. Di luar dugaanku, ia ternyata begitu cepat langsung menyetujuinya. Mungkin inilah yang dinamakan takdir.
Perjalanan cinta kami terjalin begitu cepat, dan orang tuanya terus menerus mendesak supaya kami cepat menikah.
Sebenarnya aku tidak begitu buru-buru ingin menikah, namun karena pihak wanita ingin supaya kami cepat-cepat melangsungkan pernikahan, ya aku pun hanya bisa mengiyakan permintaan mereka. Bahkan pihak wanita hanya meminta uang Rp 23 juta sebagai uang lamaran. Hal ini tentu saja benar-benar mengagetkan pihak keluarga saya karena biasanya diperlukan dana yang lebih banyak untuk melamar gadis kota.
Setelah menikah, aku dan istriku masih bekerja di perusahaan yang sama. Hampir setiap hari kami berangkat dan pulang kerja bareng, makan bareng, bersih-bersih rumah, yang mana aku rasakan bahwa kehidupan pernikahan benar-benar tidaklah semudah yang kita bayangkan.
Setelah selesai kerja, kami pun pulang ke rumah dengan keadaan fisik yang sudah begitu lelah. Kami pun tertidur begitu saja. Tapi ayah dan ibuku selalu mendesak, mereka meminta kami untuk memberikan cucu bagi mereka. Akhirnya untuk memenuhi permintaan orang tua, kami pun berusaha.
Namun tidak disangka, setelah mencoba selama 1 tahun, istriku tetap saja masih belum hamil. Di sisi lain ayah dan ibu semakin mendesak kami. Akhirnya kami pun pergi bertanya ke sana-sini, tapi tetap tidak membuahkan hasil.
Akhirnya kami pergi ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan. Saat itulah baru diketahui bahwa ternyata aku yang tidak bisa memberikan anak untuk istriku. Aku merasa begitu bersalah pada sang istri saya karena tidak bisa memberikannya buah dari hasil cinta kami.


Ayah dan ibu juga begitu kecewa dan berkata, “Kelanjutan keturunan di keluarga kita akhirnya berhenti di sini.”
Aku tetap berusaha untuk menghibur ayah dan ibu dengan berkata, “Tidak apa, kita kan bisa mengadopsi anak. Asalkan ia anak yang baik dan patuh, maka ia bisa menjadi penerus keturunan keluarga ini.”
Akhirnya ayah dan ibu pun perlahan menerima kenyataan ini. Aku meminta maaf pada istriku, berharap kalau dia bisa mengerti keadaanku, dan kami pun memutuskan untuk mengadopsi seorang anak. Ternyata istriku begitu cepat menyetujui ide ini dan meminta agar hal ini biarlah ayah dan ibunya yang mengurusinya. Aku pun menyetujuinya.
Tak berapa lama, langsung ada kabar tentang adopsi yang hendak kami lakukan. Ibu mertua mengatakan bahwa ada seorang anak laki-laki dari kerabat mereka yang berusia 1 tahun yang ingin diberikan bagi mereka untuk diadopsi.
Saya merasa, ini sangat baik karena kami kenal siapa orang tua mereka. Jadi, mertuaku langsung membawa pulang anak itu ke rumah. Orang tuaku begitu menyukai anak itu. Mereka begitu semangat menjaga dan merawat anak itu. Dan anak kami pun hari demi hari tumbuh menjadi seorang anak yang sehat.
Setelah 2 tahun berlalu, para tetangga mulai berkomentar, “Kenapa anak yang diadopsi ini tumbuh begitu mirip dengan istrimu?”
Awalnya aku jelaskan pada mereka bahwa ini mungkin karena anak ini masih memiliki hubungan darah dengan pihak istriku. Namun hari demi hari berlalu, aku pun menyadari bahwa anak ini begitu mirip dengan istriku, hingga akhirnya timbullah kecurigaan.
Akhirnya, diam-diam aku mengambil rambut istri dan anak angkatku lalu ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA. Saat hasilnya keluar, laporan yang ada di depan mata benar-benar membuatku dan tak mampu berkata-kata. Ternyata benar kalau anak itu adalah anak istriku. Aku langsung lemas seketika, terasa begitu berat bagiku untuk menerima kenyataan ini.
Aku pun membawa laporan itu pulang ke rumah dan mencari istriku. Saat melihat itu, istriku begitu gugup dan akhirnya berusaha menjawab pertanyaanku. Ia mengatakan bahwa anak ini adalah anak hasil hubungannya dengan pacar lamanya. Pacar lamanya itu meninggalkan diri dan anaknya saat itu, sampai ayah dan ibunya begitu tertekan dan akhirnya berusaha untuk menikahkan anak perempuannya sesegera mungkin.
Tapi membawa anak ini masuk ke keluarga kami, rasanya ini yang benar-benar sangat sulit untuk dimaafkan. Istriku juga menjelaskan bahwa awalnya ia sama sekali tidak berencana untuk membawa anak ini masuk ke keluarga ini.
Aku benar-benar kecewa berat, bahkan saat melihat anak itu, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan, tidak tahu juga bagaimana cara menjelaskan kepada ayah dan ibuku.
Teringat kembali janji nikah sewaktu menikahi istriku, akhirnya meski dengan sangat berat, aku pun memutuskan untuk melupakan semua masa lalunya dan menerima anak itu apa adanya. Aku pun menyimpan erat-erat rahasia ini agar tidak diketahui orangtuaku. Cukup aku saja orang yang menjadi kecewa dari kejadian ini. Perlahan, aku pun mulai memupuk kembali cinta kepada istriku. Dan kami pun tetap hidup bahagia dalam keluarga kecil kami.


Nah, bagaimana menurut sahabat semua? Bila ada pendapat atau masukan silakan tulis di kolom komentar ya. Jangan lupa berikan like & share juga lalu klik ikuti bila menyukai postingan ini. Terima kasih.
Sumber: www.youtube.com/watch?v=SJKHrXfUeys