EM bukanlah orang kaya. Dia hanya pedagang kecil yang berpindah-pindah dari pasar tradisional satu ke pasar tradisional lainnya. Tiap pagi sebelum subuh sudah harus berpacu dengan waktu agar tidak kesiangan membuka lapak dagangan. Maklum lapak yang dia sewa itu jaraknya jauh-jauh dari rumah. Ada yang sampai memakan 2 jam perjalanan.
EM cukup terkenal di kompleks perumahannya. Suka menyapa. Pandai pula bergaul dan membaur dengan warga. Namun yang jadi penyakit EM adalah sifat sombongnya. Setiap ngomong kerap membesar-besarkan diri, menceritakan prestasi anak bujangnya yang sedang kuliah di Perguruan Tinggi Negeri Ternama sampai menceritakan anak bungsunya yang sudah sukses kebeli mobil bekas di usia muda.
Beberapa warga yang mendengar sudah terbiasa dengan omong besar EM, salah satu ibu bahkan sengaja meladeni kesombongan EM sehingga semakin semangat bercerita ini itu. Sementara yang lain ada pula yang dongkol, menyimpan rasa tidak suka.
Singkat cerita, EM menggelar pesta pernikahan anak bungsunya. Di sinilah EM jadi paling mencolok. Geleng segede rantai melilit di tangan kirinya. Banyak pasang mata yang memperhatikan itu, terlebih beberapa kali EM sengaja mengangkat-angkat tangan kirinya seperti mau membenahi posisi gelang berulang kali.

Saat-saat memalukan itu pun tiba, ternyata ada tetangga yang tidak suka dengan kesombongan EM. Sebut saja inisial nama DN. DN sudah membayar orang luar kampung untuk melakukan aksi nekat. Orang bayaran itu menyamar seperti tamu undangan lainnya, mengenakan batik, berkacamata.
Ketika giliran bersalaman dengan kedua mempelai lalu menuju ke EM selaku orang tua pengantin, si orang bayaran itu dengan sigap mengenakan sarung tangan dan merogoh kantong plastik di saku celanananya. Dalam hitungan detik orang bayaran itu memukulkan kantong plastik ke gelang tangan EM. Kantong plastik itu pecah. Isinya keluar berceceran, ada yang memercik mengenai muka EM. Sementara si pelaku sudah jauh lari disambut temannya yang sudah siap di atas sepeda motor ambil ancang-ancang ngebut. Pelaku raib tak ditemukan.
Beberapa tamu undangan kaget dan bertanya-tanya apa yang terjadi sampai membuat EM menangis panik. Beberapa lagi ada yang terpingkal-pingkal menahan sakit perut karena tertawa setelah menyaksikan EM berlumuran cairan kuning berbau menyengat.

Dari sini kita bisa petik hikmah, tidak ada manusia yang menyukai orang sombong dan suka pamer. Semoga menjadi renungan dan tamparan keras bagi kita semua. Bersikap sewajarnya saja. Tidak perlu menyibukan diri demi penilaian orang lain. Itu riya' namanya, Allah pun tidak suka.