Sebelum menikah, aku dan suami sepakat untuk membeli mobil dan rumah sendiri. Bukan apa-apa, aku hanya khawatir jika serumah dengan mertua akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Terus terang saja, aku takut mendapat perlakuan tak nyaman.
Sayangnya, tabungan suamiku hanya cukup untuk membeli mobil. Mau tidak mau, setelah menikah kami tinggal di rumah mertua untuk sementara.
Kupikir, mertua itu seperti di film-film; jahat, berkata kasar, bahkan suka menganiaya menantu, tapi sejauh ini semua baik-baik saja. Bahkan bila aku sakit, mertua kerap mengantar berobat ke dokter.
Tapi tetap saja aku merasa cemas. Mungkin saja sekarang terlihat baik baik saja. Siapa tahu nanti semua berubah. Aah, aku memang takut berlebihan.
Salah satu kebiasaanku ialah bermain smartphone sebelum tidur. Sampai pada suatu ketika, saat itu tengah malam, aku mendengar seseorang membuka pintu kamar dan masuk secara diam diam.
Aku mematikan smartphone dan pura-pura tidur. Kucoba mengintip perlahan di balik selimut ternyata dia adalah mertuaku. Dan betapa terkejutnya aku dengan apa yang dilakukannya.
Bagaimana tidak? Dia datang ke kamar hanya untuk merapikan selimutku. Seolah, ingin memastikan apakah aku telah memakai selimut atau tidak.
Esok malamnya, dia melakukan hal itu lagi. Kemudian, lagi dan lagi. Aku tak tahan dan bertanya pada suami mengapa dia berbuat demikian.
Ternyata, mertuaku punya alasan yang menyedihkan. Suamiku lalu bercerita, dulu dia memiliki kakak perempuan. Karena tuntutan ekonomi, ibunya harus bekerja keras dan sering keluar rumah bahkan saat malam tiba. Membuat keadaan anaknya kehilangan perhatian.
Salah satu kebiasaan kakaknya, tak betah bila dipakaikan selimut ketika tidur dan selalu menendangnya. Akibatnya, kakaknya sering masuk angin dan berujung pada penyakit asma hingga akhirnya meninggal dunia.
Ibunya begitu menyesal dan merasa itu terjadi karena kelalaiannya. Sejak saat itu, dia selalu melihat keadaan anaknya pada malam hari, memastikan mereka telah memakai selimut ketika tidur.
Aku tergugu dan terharu mendengarnya. Ibu dan ayah saja tak pernah melakukan hal seperti itu padaku semasa hidup mereka. Ternyata, mertuaku telah menganggap aku layaknya anak kandungnya sendiri.
Sejak saat itu, aku tak lagi berprasangka buruk. Dan juga aku dan suami sepakat untuk urung membeli rumah dan memilih tetap tinggal bersama mertua.
***
Jangan berprasangka negatif terhadap orang lain. Kadang kala banyak orang baik di sekeliling kita, tapi prasangka membuat semuanya terlihat buruk.
***
Bagaimana dengan ucer? Apa pernah merasakan hal seperti ini?